Duaratus Tahun Setelah Kesunyian Raden Saleh

sardono w kusumo memejamkan matanya, sembari menikmati semilir angin yang mengeraikan rambut gondrongnya. ia menggunakan pakaian beskap ala ningkrat jawa abad ke – 19. panorama alam di balik, gedung teater moulin rouge yang gemerlap penuh sinar beserta kincir anginnya yang khas, menjadi ciri kalau ia lagi berada di paris.

Duaratus Tahun Setelah Kesunyian Raden Saleh

pada saat yang lain, ia duduk di dalam trem, memandangi malam di luar jendela kaca. pakaian beskap jawanya barangkali mengusik penonton yang melihat film bertajuk raden saleh after 200 years itu. rupanya, sardono memang lagi memerankan diri menjadi raden saleh. apakah ini sebuah ekspedisi napak tilas?

sardono dan raden saleh memang bukanlah kedekatan yang asing. jauh hari, saat sebelum film ini dibuat pada 2015 oleh kameramen faozan rizal, sardono sudah memperlihatkan semacam obsesinya pada tokoh pelukis hindia yang hidup di masa tahun 1811 – 1880, dan telah populer di eropa pada zamannya itu. dalam repertoar tarinya yang populer berjudul opera diponegoro, yang dipentaskan pertama kali pada 2008, sardono menghiasi panggungnya dengan lukisan repro penangkapan pangeran diponegoro karya raden saleh dalam dimensi raksasa yang terbentang transpara sebagai latar depan.

saat ini, saat bereksperimen dengan media film, sardono kembali pada tokoh tersebut. kenapa (lagi – lagi) raden saleh?

” jika dibilang terobsesi, sesungguhnya (obsesi aku) bukan pada raden saleh – nya, tetapi pada isu kemanusiaan yang melekat padanya, ialah gagasan dan antusias perlawanan ia era itu, ” ucapnya saat berbincang di sela kesibukannya tampak di ajang singapore international festival of arts (sifa) 2016 di singapore akhir minggu kemudian.

sardono (lahir 1945) setelah itu menguraikan kalau sebagai seniman, raden saleh melaksanakan perlawanan terhadap pemerintah kolonial dengan membuat tafsir baru atas lukisan penangkapan diponegoro, yang sebelumnya pernah dibuat oleh seorang pelukis belanda. ” dalam tipe raden saleh, diponegoro ditafsirkan tegak menantang, tidak tunduk dan lesu seperti dilukiskan oleh seniman belanda itu, ” jelasnya.

” jejak itu diiringi oleh sudjojono, hendra gunawan…seniman itu ya begitu, ” tambahnya. ” seniman itu tidak butuh banyak – banyak, tetapi menginspirasi semua orang . rendra ya cukup satu, tidak butuh 5, tetapi yang satu itu keberaniannya menginspirasi kanak – kanak muda untuk jadi berani juga, ” sambungnya.

saat ini, 200 tahun sehabis raden saleh, sardono berdandan ala si tokoh yang menginspirasinya itu, dan berjalan – jalan di paris untuk menghayati apa yang pernah dicoba dan dirasakan oleh pelukis besar itu. adegan tersebut direkam, dan setelah itu menjadi film yang menggambarkan penggalan dari proyek expanded cinema yang disponsori oleh sifa di singapore dan didukung oleh mandiri arts dari indonesia.

” jadi, pada sesuatu saat raden saleh kembali ke paris mengajak istrinya dengan tujuan ingin menunjukkan kalau lukisan ia ada di museum – museum terhormat di sana, dan ia sendiri wujud yang diharga di sana. tetapi, keliling 2 hari ia tidak menciptakan karyanya, dan kembali ke batavia dengan kecewa. nyatanya ia di sana suda tak menemukan tempat lagi, masa kejayaannya sudah lewat. aku mengenakan pakaian ala raden saleh, naik trem, tidak ada yang hirau, begitulah kesunyian raden saleh dahulu, ” paparnya.

adegan sardono sebagai raden saleh di paris pada 2015 menggambarkan penggalan pertama dari film raden saleh after 200 years. film ini terdiri atas 5 penggalan. pada penggalan kedua, sardono bereksperimen dengan sosok – sosok aneh, seorang wanita bertato mirip geisha ala jepang, dan wujud lelaki yang menyamai harimau. mereka bertarung di atas meja makan.

pada penggalan ketiga, sardono menunjukkan dalang ki slamet gundono (1966 – 2014) dengan karakteristik khas gitar kecilnya, menembang dengan latar balik bleduk kuwu, sebuah dataran di purwodadi, jawa tengah dengan lumpur panas yang menyembur – nyembur. kemudian, seorang wanita berbadan dua dengan perut yang terbuka menari – nari memutari pribadinya. sardono timbul lagi di penggalan keempat dan kelima, menari dalam adegan – adegan yang indah dan spektakuler.

secara totalitas, kecuali raden saleh after 200 years yang berdurasi kira – kira satu separuh jam, expanded cinema menggambarkan rentetan dari film – film pendek yang menggambarkan hasil restorasi dari dokumentasi kegiatan sardono di masa muda (1968 – 1978). ketika itu, ia berumur 23 tahun dan sebagai seniman jawa berkelana melaksanakan kunjungan ke bermacam wilayah nusantara, dari bali sampai nias. film – film itu diputar secara serentak dan nonstop pada satu layar besar utama dan 6 layar kecil sepanjang sifa 2016 berlangsung, pada 13 – 18 agustus kemudian.

Categories: Fotografi