Liburan menyenangkan di Pulau Komodo

pulau-komodo

Pantai pasir hitam serta pasir putih telah kerap jadi obyek wisata saya mulai sejak kecil, serta saya bercita-cita berwisata ke pantai indah nan unik lantaran pasirnya berwarna warna pink – warna yang melambangkan kasih sayang, cinta, serta kelembutan.

Beberapa waktu lalu, saya serta istriku punya niat berlibur baby-moon ; waktu itu ia tengah hamil 7 bln., anak ke-2 saya. Mulai sejak awal 2013 mulai sejak saya berjumpa dengan salah satu penyedia trip pulau komodo, di Facebook, di mana ia bekerja di Taman Nasional Komodo, saya kagum sekali lihat album bebrapa photo keindahan

Labuan Bajo serta pantai-pantai di Pulau Rinca, Komodo, Kanawa, dan lain-lain.

Perjalanan ini betul-betul di luar bayangan kami, awalannya kami fikir kondisinya bakal jadi berlibur kami ke P. Pulau dewata, atau ke P. Lombok, tempat honeymoon dahulu – bersantai di pantai, berjalan-jalan shopping, dst, nyatanya oh nyatanya perjalanan ini penuh PETUALANGAN seru— ditambah lagi dengan kehamilan istriku yang meraih umur 7 bln., bikin kami sedikit kerepotan.

Sesudah kontak dengan rekan saya tadi serta searching di internet, gagasan masak telah kami susun. Kami pergi dari Kefamenanu, kabupaten Timor Berencana Utara, (200 km dari Kupang), serta bermalam semalam di Kupang, lalu pagi-pagi jam 07. 00 naik pesawat Merpati (saat ini telah bangkrut, digantikan pesawat Wings Air, Sky Aviation, atau Trans Nusa. Kami transit di Bandara Frans Seda Maumere, sebelumnya tiba di bandara hawa Komodo di Labuan Bajo. Setelah tiba di bandara, kami menyewa taksi untuk keliling nikmati keindahan kota serta pantainya yang begitu menawan di saat senja hari.

Hotel-hotel paling baik ada di jejeran Pantai Pade, pantai yang tenang serta indah, dibarengi kolam renang yang menghadap pantai, serta begitu menawan waktu melihat matahari tenggelam dari situ. LUAR BIASA! Saya saat itu juga jatuh cinta pada panorama ini! Begitu banyak penginapan di Labuan Bajo, hingga tidak butuh cemas tidak bisa penginapan. Harga nya begitu beragam, dari hotel kelas Melati bertarif Rp 150 ribu, hingga President Suite di Hotel Jayakarta bertarif Rp 5, 5 juta semalam. Wow!!

Labuan Bajo adalah ibukota kabupaten Manggarai Barat. Kotanya cukup kecil, tetapi kesibukan di pelabuhannya cukup repot, penuh dengan kapal, serta banyak pulau-pulau kecil selama mata melihat di berencana laut yang tenang. Pariwisata disana semakin maju waktu dicanangkan Sail Komodo 2013 oleh Bp Juiceuf Saat. Nah sesudah senang keliling kota, lihat pantai dari BUKIT CINTA, kami beristirahat di hotel.

Sore harinya berjumpa dengan yang memiliki kapal Bp Heri yang bakal membawa kami berpetualang keliling pulau. Kami berencana bermalam semalam di kapal di teluk Pulau Kalong. Pak Heri menanggung ketersediaan makanan memiliki bahan basic ikan fresh sepanjang 2 hari, termasuk juga persiapan alat snorkeling.

Situasi Pantai Pade di belakang Hotel di kota Labuan Bajo, dengan laut yang begitu tenang.

PERJALANAN KE PULAU RINCA serta KOMODO

Jam 07. 00 kami pergi dari hotel menuju dermaga, serta di kapal kami ditemani 3 orang pegawai Pak Heri untuk temani sepanjang perjalanan, serta mereka nyatanya begitu pintar diving serta telah dibekali tehnik penyelamatan di laut.

Sepanjang dua jam perjalanan melalui laut yang tenang, kami tiba di Loh Buaya di Pulau Rinca, yang waktu itu air tengah gunakan. Di dermaga terlihat sebagian ekor komodo ukuran tengah berkeliaran serta tidur-tiduran.

Sebelumnya mulai treking, kami mesti ke Pos Jagalah dahulu untuk membayar layanan ranger (pawang komodo), serta ticket masuk. Spesial untuk turis domestik Rp 50 ribu per orang serta cost Rp 5 ribu bila membawa kamera, tetapi untuk turis asing mesti membayar 50 USD apabila membawa kamera ditarik lagi 5 USD.

Mereka memanglah membedakan tarif turis domestik serta asing untuk bikin daya tarik turis domestik yang masihlah tidak sering kesana. Setelah membayar retribusi di pos, kami mulai jalan keliling pulau, kami tentukan jalur treking pendek, yang mana jalur ini menuju ke Bukit yang dapat lihat keindahan pantai Pulau Rinca. Kami ditemani Pak Agus sebagai ranger, serta ia membawa tongkat panjang bercabang 2 untuk beberapa jagalah bila kami terserang komodo (tongkat panjang tadi manfaatnya mengusir & dapat menahan leher komodo).

Panorama Pantai P. Rinca dari atas bukit (jalur treking pendek)

Cahaya matahari cukup terik, hingga sebentar-sebentar kami berhenti untuk minum Liang Teh Cap Panda yang kami bawa di ransel, serta berfoto ria di Padang Savana serta di bukit. Kami begitu mujur lantaran pak Agus nyatanya berjiwa fotografer, jadi banyak pula bebrapa photo candid yang bagus-bagus.

Jalan treking disana masihlah alami, tak diplester, serta berdasarkan penjelasan pak Agus, komodo di pulau Rinca sesungguhnya lebih beresiko dari pada di P. Komodo, lantaran umumnya komodonya kecil-kecil serta larinya kencang (jumlah mangsa Komodo di P. Rinca tak sejumlah di P. Komodo – hal semacam ini yang mengakibatkan ukuran komodonya rata-rata lebih kecil).

Sebagian komodo terlihat berdiam dekat tempat tinggal panggung, mereka diam, tetapi sesungguhnya dapat beresiko lantaran bila mencium darah, segera agresif dapat bergerak dg kecepatan 40km/jam. Ada mitos kalau komodo miliki mata ke-3 di tengah2 kepalanya, yang dapat lihat walaupun matanya tertutup. Berjalan-jalan disini terasanya masihlah alami dengan rimba konservasi yang dijaga dengan baik, Sarang komodo gampang didapati disini, serta kami menjumpai anak komodo diatas pohon yang hindari dikonsumsi induknya setelah telur menetas.

Saya tak menjumpai turis anak balita di obyek wisata ini, lantaran memanglah tak diijinkan. Komodo gampang agresif bila ada beberapa gerakan mendadak serta cepat, beberapa warna cerah, benda-benda menggelantung (seperti tas panjang dengan tali melambai-lambai), serta turis wanita yang tengah menstruasi dilarang kesana. Turis dilarang berikan makan Komodo lantaran dapat beralih jadi agresif. Setelah senang di P. Rinca, kami menuju pink Beach, satu diantara pantai terindah.

Categories: Fotografi